Suku Suku di Minangkabau bagian II

3) Suku Bodi Suku Bodi adalah salah satu suku (marga) dalam kelompok etnis Minangkabau yang juga merupakan sekutu Suku CaniagoAdat Perpat...

3) Suku Bodi

Suku Bodi adalah salah satu suku (marga) dalam kelompok etnis Minangkabau yang juga merupakan sekutu Suku CaniagoAdat Perpatih atau Lareh Bodi Caniago. Kelarasan Bodi-Caniago ini didirikan oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang. 

Bodi berasal dari kata Budi atau pohon Bodhi, sebuah pohon yang sering dijadikan oleh pertapa Buddhist. Konon dulu suku ini adalah penganut Buddhisme yang taat termasuk Datuk Perpatih Nan Sebatang sendiri. suku ini sudah menempati wilayah Minangkabau jauh sebelumnya datangnya agama Islam. Bahkan dapat dikatakan bahwa suku ini termasuk pendiri adat Minangkabau atau suku nenek moyang orang Minangkabau.
Baca Bagian Lain :
Suku Bodi dan suku Caniago tidak banyak melakukan pemekaran suku sebagaimana suku lainnya yaitu Suku Melayu, Suku Tanjung, Suku Koto dan lainnya. Suku ini terkenal kompak, barangkali disebabkan faktor adat Perpatih yang mereka anut.

Penghulu Adat Diantara gelar datuk suku Bodi adalah Datuk Sinaro Nan Bandak Pemekaran Suku Bodi di daerah lain ada yang disebut dengan Suku Budi Caniago atau Suku Bodi Caniago, misalnya di Kenegerian Lubuk Jambi, Kuantan Mudik, Riau.

Persebaran, Suku ini tidak banyak tersebar di wilayah Minangkabau yang lain seperti halnya saudara dekatnya sendiri yaitu Suku Caniago, Suku Koto dan Suku Piliang. Suku ini kebanyakan terdapat di Kabupaten Tanah Datar.

4) Suku Caniago

Suku Caniago adalah suku asal yang dibawa oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang yang merupakan salah satu induk suku di Minangkabau selain suku Piliang. Suku Caniago memiliki falsafah hidup demokratis, yaitu dengan menjunjung tinggi falsafah “bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat. Nan bulek samo digolongkan, nan picak samo dilayangkan” artinya: “Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat”. Dengan demikian pada masyarakat suku caniago semua keputusan yang akan diambil untuk suatu kepentingan harus melalui suatu proses musyawarah untuk mufakat.

Falsafah tersebut tercermin pula pada bentuk arsitektur rumah adat bodi Caniago yang ditandai dengan tidak terdapatnya anjuang pada kedua sisi bangunan Rumah Gadang. Hal tersebut menandakan bahwa tingkat kasta seseorang tidak membuat perbedaan perlakuan antara yang tinggi dengan yang rendah. Hal yang membedakan tinggi rendahnya seseorang pada masyarakat suku Caniago hanyalah dinilai dari besar tanggung jawab yang dipikul oleh orang tersebut.

Salah satu falsafah lain untuk mencari kata kesepakatan dalam mengambil keputusan pada suku caniago adalah aia mambasuik bumi artinya suara yang harus didengarkan adalah suara yang datang dari bawah atau suara itu adalah suara rakyat kecil, baru kemudian dirembukkan dalam sidang musyawarah untuk mendapatkan sebuah kata mufakat barulah pimpinan tertinggi baik raja maupun penghulu yang menetapkan keputusan tersebut.
Gelar Datuk Suku Caniago, : Datuk Rajo Penghulu, Datuak Manindiang Alam, Datuk Bandaro Sati, Datuk Rajo Alam, Datuk Kayo, Datuk Paduko Jalelo, Datuk Rajo Perak, Datuk Paduko Amat, Datuk Saripado Marajo.

5) Suku Tanjung

Suku Tanjung merupakan subsuku dari Suku Minangkabau yang tergolong banyak perkembangan populasinya. Suku ini tersebar hampir di seluruh wilayah Minangkabau dan perantauannya.

Ada yang mengatakan suku ini awalnya orang-orang yang dulunya hidup sebagai nelayan di ujung-ujung daratan yang menjorok ke laut yang disebut tanjung. Jadi mereka ini sebenarnya orang pesisir atau orang laut, bukan orang pedalaman. Awalnya kehidupan mereka sangat tergantung pada laut.
Persebaran suku Tanjung banyak menyebar nagari Batipuh (Tanah Datar), Kurai Limo Jorong (Agam), Ampek Angek (Agam), Talang Sungai Puar (Agam), Maninjau, Singkarak (Solok), Koto Gaek dan Aie Batumbuk (Solok), Air Bangis dan Talu (Pasaman), Pauh IX (Padang), Padang Pariaman, Bayang dan Tarusan (Pesisir Selatan), dan beberapa nagari lain di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, dan perantauan orang Minang.

Pemekaran suku Tanjung mengalami pemekaran menjadi beberapa pecahan suku yaitu: Tanjung Pisang (Tanjung Sipisang), Tanjung Simabua, Tanjung Guci, Tanjung Kaciak (Tanjung Ketek). Tanjung ,  Sikumbang, Tanjung Koto, Tanjung Gadang, Tanjung Payobada, Tanjung Sumpadang (Tanjung Supadang), Tanjung Batingkah, Panai Tanjung, 

Suku Tanjung termasuk ke dalam Lareh Koto Piliang. Sekutu suku Tanjung adalah: Suku Guci (sebagian ada yang mengatakan dekat ke Suku Melayu misalnya di Pauh,Padang), Suku Sikumbang
Suku Koto, Suku Piliang, Suku Sipisang, Gelar datuk suku Tanjung. 

Gelar datuak bagi suku Tanjung biasanya: Datuk Tan Dilangit, Datuk Talangik, Datuk Rajo Intan
Datuk Rajo Ameh, Datuk Rajo Indo, Datuk Gamuak. Datuk Rajo Bandaro Basa, Datuk Kayo.

Hubungan suku Tanjung Minangkabau dengan marga Tanjung Batak

Suku Tanjung bersama Suku Malayu dan Suku Mandailiang mempunyai kemiripan nama dengan marga Tanjung, Etnis Melayu dan marga Mandailing di luar Minangkabau. Apakah ketiga suku ini mempunyai kaitan sejarah di masa lampau, ini membutuhkan penelitian lebih lanjut 

6) Suku Guci 

Suku Guci adalah salah satu di Minangkabau yang berafiliasi dalam Lareh Koto Piliang yaitu merapat ke suku Tanjung. Besar kemungkinan nama suku ini diambilkan dari produk warga suku ini di masa lampau yaitu produk yang terbuat dari tembikar atau tanah liat yang disebut guci. Selain itu kemungkinan kedua adalah mereka bisa jadi peniaga atau pemasok ragam guci dari daratan Tiongkok.
Persebaran Suku Guci tersebar di seluruh wilayah Minangkabau diantaranya di nagari Batipuh (Tanah Datar), Kurai 5 Jorong, Pandai Sikek dan Ampek Angkek (Agam), Koto Gadang dan beberapa nagari lainnya.

Suku Guci di berbagai daerah bergabung dengan suku-suku yang berbeda-beda. Di daerah Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, suku Guci serumpun dengan suku Tanjung. Tapi di Pauh, Padang, suku Guci serumpun dengan Suku Melayu. Begitu pula di kecamatan Empat Koto, Agam, suku Guci disebut pula sebagai suku Guci Piliang, yang berarti suku ini telah merapat pula ke Suku Piliang, di Nagari Kurai taji Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman dan Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman, suku Guci merupakan kelompok masyarakat yang berasal dari suku Piliang yang menetap di Nagari  Kurai taji karena di nagari ini tidak ada suku Piliang.

Gelar Datuk Suku Guci biasanya bergelar : Datuk Tan Dilangit, Datuk Bandaro Gamuak, Datuk Rajo Gandan. Datuk Cumano, Datuk Bandaro Panjang, Datuk Tumbaliak. Datuk Maharajo, Datuk Bandaro.
Datuk Mangkhudun atau Datuk Makhudum, Datuk Majo Nan Sati, Datuk Subaliak Langik, Datuk Kuniang, Datuk Rang Kayo Nan Gadang, Datuk Bagindo Alat Cumano. Datuk Bandarikan,  Datuk Tanpalawan, Datuk Bagindo Cumano. Penghulu agamanya bergelar Imam Marajo atau Imam Maharajo. Sedangkan malinnya adalah Malin Marajo.

7) Suku Sikumbang

Suku Sikumbang termasuk suku yang banyak berkembang diantara suku-suku Minangkabau. Warga suku ini menyebar di berbagai wilayah Minangkabau baik di luhak, rantau ataupun di perantauan.
Ada beberapa kata yang terkait dengan asal usul nama suku Sikumbang yaitu kata kumbang. Kumbang bisa berarti sejenis serangga, atau sebuah nama untuk hewan pemburu misalnya anjing. seekor anjing peburu dinamakan kumbang biasanya kalau anjing tersebut berbulu hitam seluruh tubuhnya. Anjing kumbang sangat terkenal di zaman dulu di ranah Minangkabau. 

Bahkan Sutan Balun yang kemudian bergelar Datuk Perpatih Nan Sebatang diceritakan oleh Gus tf Sakai dalam novelnya yang berjudul Tambo Sebuah Pertemuan memiliki seekor anjing yang bernama Kumbang, yang pernah menimbulkan masalah hukum di istana Pagaruyung lantaran gigitan si Kumbang terhadap seorang pengawal Istana.

Jadi besar kemungkinan dahulu suku Sikumbang adalah orang-orang yang suka berburu dengan menggunakan anjing dan anjing mereka yang terkenal adalah si Kumbang yang kemudian menjadi nama suku mereka.

Suku Sikumbang bersekutu dengan suku-suku lain di Minangkabau terutama Suku Tanjung, Suku Koto, Suku Piliang dan suku lainnya. Diantara gelar datuk suku ini adalah, Datuk Bandaro, Datuk Basa Batuah, Datuk Rajo Api, Datuk Mangiang.

Agiah Komen Gai La Sanak

   


Nama

Adaik,35,bahasa minang,6,Budaya,72,Carito,14,Dibao Galak,8,istilah,14,Pantun,12,Papatah,9,Resep Minang,9,Sajarah,31,Tokoh,10,Warisan,27,
ltr
item
Minangkabau: Suku Suku di Minangkabau bagian II
Suku Suku di Minangkabau bagian II
https://2.bp.blogspot.com/-DcnAZYf4qho/WAt2RJ7ZfkI/AAAAAAAAA6A/LQJNrKKmXEoI7yten79Gd7nHH67thBjVQCPcB/s1600/suku%2Bdi%2Bminangkabau.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-DcnAZYf4qho/WAt2RJ7ZfkI/AAAAAAAAA6A/LQJNrKKmXEoI7yten79Gd7nHH67thBjVQCPcB/s72-c/suku%2Bdi%2Bminangkabau.jpg
Minangkabau
http://www.anakminang.com/2015/10/suku-suku-di-minangkabau-bagian-ii.html
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/2015/10/suku-suku-di-minangkabau-bagian-ii.html
true
2180777074329911998
UTF-8
Sadang Proses Indak Basuo Caliak Sadono Baco Langkok Baleh Indak Jadi Baleh Apuih Oleh Laman Utamo Laman Artikel Caliak Sadonyo Iko Lasuah Lo Tantang Kumpulano SEARCH Kasadono Ndak Basuo nan Sanan Mintak Baliak Ka Hal Utamo Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Aguih September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Dec Sabanta Ko 1 minik nan lalu $$1$$ minik lalu 1 nan lalu $$1$$ jam nan lalu Karik Parang $$1$$ patang $$1$$ minggu patang labiah 5 minggu Followers Follow Iko Bamanpaik Bana Bagian dulu baru tabukak gembok no mah Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy