Jenis Adat di Minangkabau

Adat Minangkabau dalam fungsinya sebagai pedoman dan pegangan hidup masyarakat di Minagkabau, isinya secara garis besar terdiri dari 4 (empa...

Adat Minangkabau dalam fungsinya sebagai pedoman dan pegangan hidup masyarakat di Minagkabau, isinya secara garis besar terdiri dari 4 (empat) jenis. Dalam kehidupan sehari-hari di Minangkabau keempat jenis/tingkatan adat tersebut lazim disebut dengan istilah adat istiadat Minangkabau. Karena adat Minangkabau terdiri dari ampek (empat) jenis, maka biasa juga disebut dengan adat nan ampek. Keempat jenis adat tersebut kalau dilihat dari segi sifatnya dapat dibagi atas 2 (dua) bagian, yaitu :

  1. Adat babuhua mati
  2. Adat babuhua sentak

Ketentuan adat nan babuhua mati adalah merupakan ketentuan-ketentuan adat yang bersumber pada kenyataan-kenyataan dan fenomena-fenomena serta sifat-sifat yang terdapat pada alam yang tidak mungkin bisa dirobah oleh manusia dengan cara apapun juga, karena memang sudah demikian ditetapkan oleh Allah Maha Pencipta.

Adapun contoh dari ketentuaan adat nan babuhua mati tersebut misalnya : sifat api mambaka, sifat aia mambasahi, atau matahari terbit di ufuk Timur, kemudian terbenam di ufuk Barat. Semua itu sudah merupakan sunahtullah (ketetapan) dari Allah Maha Pencipta. Itulah sebabnya dikatakan bahwa adat nan babuhua mati tersebut takkan dapat di robah oleh manusia dengan cara dan upaya apapun juga. (tak lakang dek paneh, tak lapuak dek ujan)
Kemudian ketentuan-ketentuan adat nan babuhua sintak adalah ketentuan-ketentuan adat yang disusun oleh ninik mamak untuk mengatur kehidupan masyarakat yang dapat dirobah oleh manusia melalui proses musyawarah mufakat. Misalnya ketentuan-ketentuan adat yang berkaitan dengan tata cara mengantar dan menjeput marapulai dalam adat perkawinan di Minangkabau, baik mengenai persyaratan ataupun tata cara menjeput marapulai. Ketentuan tersebut dapat dirobah dengan persyaratan harus dengan musyawarah mufakat oleh para ninik mamak dalam nagari yang bersangkutan.

Adapun adat nan ampek tersebut adalah adat nan sabana adat, adat nan di adatkan, adat nan taradat, dan adat istiadat.

 Adat Nan Sabana adat

Adat nan sabana adat adalah ketentuan-ketentuan adat berupa kenyataan-kenyataan yang terdapat pada alam sekitar kita. Kenyataan-kenyataan tersebut bisa berupa sifat-sifat alam, baik flora maupun fauna, warna-warni ataupun gejala-gejala yang terdapat pada alam yang ada di sekitar kita yang dapat ditangkap dengan panca indera manusia. Contoh dari adat nan sabana adat ini, misalnya sifat aia mambasahi, sifat api mambaka atau adat lauik timbunan ombak, adat gunuang timbunan kabukik. Atau yang berupa warna-warna, misalnya : hitam tahan tapo, putiah tahan sasah, nan kuriak kundi, nan merah sago dan sebagainya.

Jadi sumber adat nan sabana adat adalah kenyataan-kenyataan yang terdapat pada alam yang merupakan hakikat dari hukum-hukum yang diciptakan oleh Allah Maha Pencipta. Yang dimaksud dengan alam adalah alam takambang (alam yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia), alam memiliki sifat-sifat tertentu. Sifat alam ada yang berubah-ubah, dan ada pula yang tetap. Sifat alam yang tetap dan tidak berobah inilah yang disebut dengan ungkapan adat :
Indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan, dianjak indak layuah, dibubuik (dicabuik) indak mati”.

Dari keempat jenis adat ini, adat nan sabana adat mempunyai kedudukan yang tertinggi dan menjadi dasar dari ketentuan adat berikutnya yaitu adat yang diadatkan dan adat teradat serta adat istiadat. Adat nan sabana adat merupakan dasar pokok dari tiga jenis adat berikutnya dan merupakan ketentuan pelaksanaan dari ketentuan adat nan sabana adat.

Adat Nan Diadatkan

Adalah ketentuaan-ketentuan adat yang dibuat dan disusun oleh nenek moyang orang Minangkabau yaitu Dt. Parpatih Nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan, yang kemudian dihimpun dalam bentuk pepatah, petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam adat untuk mengatur kehidupan bermasyarakat di Minangkabau.

Kalau kita bandingkan antara adat nan sabana adat dengan adat nan diadatkan, perbedaannya yang prinsip terletak pada subjek yang menciptakannya. Adat nan sabana adat di ciptakan oleh Allah Maha Pencipta seluruh alam, yang menciptakan kenyataan-kenyataan/ketentuan-ketentuan yang terdapat pada alam yang biasa kita sebut dengan hukum Allah/hukum kodrat atau sunatullah. Sedangkan adat nan diadatkan penciptanya adalah manusia (buatan manusia), yaitu nenek moyang orang Minangkabau dalam hal ini adalah Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Ketumanggungan.

Ruang lingkup kehdupan yang diatur oleh adat nan diadatkan sangat luas. Hampir seluruh segi kehidupan bermasyarakat diatur oleh adat nan diadatkan, mulai dari masalah yang kecil-kecil misalnya tata cara makan dan minum, berjalan, bergaul dan sebagainya, sampai masalah yang berkaitan dengan bidang Ekonomi, Politik, Sosial dan sebagainya.

Contoh ketentuan adat nan diadatkan yang berkaitan dengan tata cara makan dan minum :
Makan sasuok duo suok, cukuik ka tigo kanyang
Minum saraguak duo raguak, cukuik ka tigo pueh..
Jan makan saku tak abih
Jan minum saraguak abih
Contoh ketentuan adat nan diadatkan yang berkaitan dengan tata cara berjalan dan berbicara
Bajalan paliharo kaki, bakato paliharo lidah
Maju salangkah madok suruik, bakato sapatah dipikiri
Mangango mangko mangecek
Contoh ketentuan adat nan diadatkan yang berkaitan dengan tata cara bergaul dalam bermasyarakat.
Nan tuo dihormati, nan ketek dikasihi, samo gadang baok bakawan
Contoh ketentuaan adat nan diadatkan tentang masalah politik/pemerintah :
Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka panghulu
Panghulu barajo ka mufakat
Mufakat barajo ka nan bana
Bana badiri sandirinyo
Manuruik mungkin jo patuik
Contoh ketentuan adat yang diadatkan yang berkaitan dengan masalah ekonomi:
Ka sawah babungo ampiang, ka bukik babungo batu, karimbo babungo kayu
Ka sungai babungo pasia, kalauik babungo karang, katambang babungo basi
Nan lunak di tanam baniah, nan kareh di buek ladang, nan bancah palapeh itiak
Padang ana bakeh taranak, batanam nan bapucuak, mamaliharo nan banyawa.
Contoh ketentuan adat nan diadatkan tentang masalah sosial :
Kok sakik basilau, kok mati bajanguak
Kaba elok baimbauan, kaba buruak bahamburan
Barek samo di pikua, ringan samo dijinjiang
Kok ado samo di makan, kok indak samo di cari
Kabukik samo mandaki, kalurah samo manurun
Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum ambun.
Demikianlah antara lain beberapa contoh dari ketentuan adat nan diadatkan.

Adat Nan Teradat

Adalah ketentuan-ketentuan adat yang dibuat dan disusun oleh ninik mamak dalam suatu nagari dalam rangka melaksanakan ketentuan-ketentuan pokok dari adat Minangkabau sesuai dengan keadaan dan kebutuhan dari masyarakat nagari yang bersangkutan.

Ketentuan-ketentuan dari adat nan teradat ini berbeda-beda antara nagari yang satu dengan nagari yang lain di Minangkabau. Perbedaan ini di sebabkan oleh karena berbedanya keadaan dan kebutuhan masing-masing nagari di Minangkabau.Sifat adat nan teradat ini disebut dalam ungkapan adat yang berbunyi :
Lain lubuak lain ikannyo.
Lain padang lain balalangnyo.
Lain nagari lain pulo adatnyo.
Jadi tegasnya ketentuan adat nan teradat ini ruang lingkup berlakunya hanya terbatas pada nagari tertentu, dan tidak berlaku bagi nagari lain. Ketentuan adat nan teradat ini disebut juga dengan “ adat salingka nagari “.

Perlu diketahui bahwa ketentuan pokok dari adat Minangkabau itu sama untuk seluruh Minangkabau. Sedangkan yang berbeda hanya ketentuan pelaksanaanya saja. Ketentuan pokok ini dikatakan oleh ungkapan adat “adat sabatang, pusako sabuah. Ketentuan pokok ini terdapat dalam ketentuan adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan. Ketentuan pelaksanaan dari ketentuan pokok diatur dalam adat nan teradat dan adat istiadat. Ketentuan-ketentuan pelaksanaan inilah yang berbeda antara nagari yang satu dengan nagari yang lainnya. Contoh dari ketetntuan adat nan teradat ini misalnya ketentuan tentang perkawinan. Ketentuan pokok tentang perkawinan di Minangkabau yaitu :
Sigai mancari anau, anau tatap sigai baranjak
Ayam putiah tabang siang, basuluah matohari, bagalanggang mato rang banyak
Datang bajampuik, pai baanta.
Maksud dari ketentuan adat diatas adalah kalau terjadi perkawinan di Minangkabau, tetap sigai mencari anau atau laki-laki/ calon suami yang datang kerumah perempuan/ calon istrinya. Dan kalu terjadi perceraian, maka laki-laki yang pergi meninggalkan rumah Perempuan. Tata cara dari perkawinan tersebut : datang bajapuik, pai baanta, artinya pihak laki-laki / calon suami/ marapulai menuju rumah perempuan (wanita), diantar bersama-sama oleh keluarga pihak laki-laki dan dijemput bersama-sama oleh pihak keluarga perempuan.

Ayam putiah tabang siang, basuluah matohari bagalanggang mato rang banyak, maksudnya perkawinan itu jelas dan diketahui oleh orang banyak dan khalayak ramai. Jadi jelas siapa yang kawin, anak siapa, kemenakan siapa dan sukunya apa. Demikianlah ketentuan-ketentuan pokok tentang perkawinan di Minangkabau. Ketentuan ini berlaku sama untuk seluruh nagari di Minangkabau. Sedangkan yang berbeda adalah ketentuan pelaksanaanya (adat nan teradat). Misalnya ketentuan dan syarat-syarat tentang anta japuik marapulai (calon suami), akan berbeda-beda antara nagari yang satu dengan nagari yang lain.

Adat Istiadat

Adat istiadat adalah ketentuan adat yang dibuat dan disusun berdasarkan musyawarah mufakat oleh ninik mamak dalam suatu nagari. Adat istiadat ini mengatur tentang masalah kesukaan dan permainan anak nagari, sesuai dengan mungkin jo patuik. Ketentuan adat ini juga berbeda-beda antara satu nagari dengan nagari yang lain karena berbedanya kesukaan dan kemauan masyarakat nagari yang satu dengan nagari yang lain.

Bentuk dari adat istiadat ini adalah berupa kesenangan atau hobbi masyarakat suatu nagari, seperti kesenian, olah raga. Kesenangan dan kesukaan anak nagari itu dikukuhkan oleh para ninik mamak nagari tersebut menjadi ketentuan adat istiadat.

Agiah Komen Gai La Sanak

Nama

Adaik,35,bahasa minang,6,Budaya,70,Carito,14,Dibao Galak,8,istilah,14,Pantun,12,Papatah,8,Resep Minang,8,Sajarah,28,Tokoh,9,Warisan,24,
ltr
item
Minangkabau: Jenis Adat di Minangkabau
Jenis Adat di Minangkabau
https://4.bp.blogspot.com/-P073XAA1KVs/WApEJIaYlNI/AAAAAAAAA14/tMz2we1g77Y6Ico7eXEsI-3SIJqqQamlACLcB/s1600/adat%2Bminangkabau.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-P073XAA1KVs/WApEJIaYlNI/AAAAAAAAA14/tMz2we1g77Y6Ico7eXEsI-3SIJqqQamlACLcB/s72-c/adat%2Bminangkabau.jpg
Minangkabau
http://www.anakminang.com/2016/11/jenis-adat-di-minangkabau.html
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/2016/11/jenis-adat-di-minangkabau.html
true
2180777074329911998
UTF-8
Sadang Proses Indak Basuo Caliak Sadono Baco Langkok Baleh Indak Jadi Baleh Apuih Oleh Laman Utamo Laman Artikel Caliak Sadonyo Iko Lasuah Lo Tantang Kumpulano SEARCH Kasadono Ndak Basuo nan Sanan Mintak Baliak Ka Hal Utamo Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Aguih September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Dec Sabanta Ko 1 minik nan lalu $$1$$ minik lalu 1 nan lalu $$1$$ jam nan lalu Karik Parang $$1$$ patang $$1$$ minggu patang labiah 5 minggu Followers Follow Iko Bamanpaik Bana Bagian dulu baru tabukak gembok no mah Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy