Imitasi Budaya, Bukanlah sebuah Dosa

Pakaian Laki Laki Minangkabau Musiman tetapi selalu ada. Menjadi dialek musiman ketika sebuah kepentingan datang menunggangi. Berbicara ...

pakaian laki-laki minangkabau
Pakaian Laki Laki Minangkabau
Musiman tetapi selalu ada. Menjadi dialek musiman ketika sebuah kepentingan datang menunggangi. Berbicara tentang budaya.

Tak jarang telinga tersentuh oleh kata, ‘ke arab-arab-an’ atau-pun ‘kebarat-baratan’. Tapi agak jarang ditemukan ‘ke Indo-Indo an’. Permasalahan budaya yang berkiblat pada suatu arah lalu menjadi bahan kehangatan untuk diperbincangkan.

Bila menemukan seorang dengan jenggot, maka dibilang ke-arab-arab an. Bila menemukan seseorang wanita dengan baju hemat bahan disebut ke barat-baratan.

Meniru suatu budaya bukanlah sebuah kesalahan. Budaya yang disebutkan sebagai hasil Budi dan Daya merupakan hal yang wajar untuk ditiru oleh siapapun. Bisa dikatakan ini adalah hak manusia untuk meniru karena dianggap baik oleh pribadi yang menirunya (diluar baik dan buruknya budaya tersebut). Namun bagi pribadi yang meniru tentu juga harus mempertimbangkan dengan akal apakah hal tersebut wajar dan layak untuk ditiru.

Toleransi dalam, katakanlah meniru atau dihaluskan dengan kata mengadopsi, telah diajarkan oleh tetua bangsa kita, Minangkabau. Apakah Minangkabau sebuah sistem budaya tertutup nan idealis? Tidak sama sekali, orang-orang Minangkabau adalah penduduk yang terbuka dengan budaya yang dianggap baik. Apakah ini bisa dibuktikan? Tentu saja bisa.
Sebagai contoh dalam budaya berpakaian, kita mengenal pakaian-pakaian:
  1. Baju Guntiang Cino ( Baju Model Cina)
  2. Kain Saruang Bugih ( Sarung Bugis)
  3. Kupiah model India
  4. Saluak mirip blankon Jawa
  5. Batiak ala Batawi
  6. Sarawa galembong model Aceh
  7. Taluak bulango dari Malayu
  8. Salempang mirip Batak
  9. Sandal Jepit mirip ‘tarompa japang’
Dari contoh di atas telah diajarkan secara tidak langsung pada kita bahwa boleh saja meniru hal yang baik dan sesuai dengan kebaikan dan tidak merusak yang telah ada. Padahal sesungguhnya dari catatan musafir arab yang bernama Ibnu Batutah tertulis masyarakat Minangkabau memiliki pakaian tersendiri dahulu kalanya.
Pada suatu ketika saya telah sampai pada sebuah daerah dimana bayang-bayang dimakan tubuh (matahari di atas kepala aka daerah katulistiwa) yang bertamadun tinggi. Pakaian dan ikat kepalanya serba hitam.
Itulah yang dijelaskan bagaimana pakaian original Minangkabau “ Baju potongan sariak,badang gadang, balangan lapang, sarawa gantuang bawah lutuik, pisak jatuah ka bawah, babuhua indak bacawek’. Celana ini dikenal dengan 'Sarawa Pansi, pakaian tukang Padati'. (uraian dari kaset Balerong Grup- Yus Dt Parpatiah).

Dengan kemajuan berpikir, selanjutnya berkembang dan di adopsi pakaian yang telah disebutkan di atas. Apakah ini tidak memalukan untuk meniru budaya? Sama sekali tidak, karena tidak ada budaya yang orijinil di dunia. Semua meniru, bahkan kita bisa berbicarapun karena meniru orang yang bisa berbicara.

Bisa dibilang telah meleset dari garis toleransi yang di wariskan pada kita jika masih menilai gaya gaya ke-arab-araban adalah kekeliruan. Karena meniru itu sah sah saja selama tidak merusak yang telah ada. Namun jika sebuah budaya yang ditiru adalah hal yang jauh dari tatanan yang ada, itu memang harus diluruskan. Seorang gadis pulang malam dengan alasan toleransi gaya kebarat-baratan memang tak bisa diterima dari azas umum kehidupan masyarakat; sopan santun.

Tujuan dari semua penulisan ini semata-mata bagaimana kita tidak menyudutkan seseorang yang bereksperimen dengan budaya manapun. Tetapi kita harus mengawasi setiap adopsi yang melanggar norma. Masihkah seharusnya sebagai manusia yang berpikir maju meributkan hal-hal 'ke-arab-arab-an'?

Agiah Komen Gai La Sanak

   


Nama

Adaik,35,bahasa minang,6,Budaya,72,Carito,14,Dibao Galak,8,istilah,14,Pantun,12,Papatah,9,Resep Minang,9,Sajarah,31,Tokoh,10,Warisan,27,
ltr
item
Minangkabau: Imitasi Budaya, Bukanlah sebuah Dosa
Imitasi Budaya, Bukanlah sebuah Dosa
https://1.bp.blogspot.com/-5ksWTFle0Z4/WIxf8ek54DI/AAAAAAAAEiw/iZ9IYcg8SY4PnzKBkqAu0znHDU4ww1_CQCLcB/s640/pakaian%2Blaki-laki%2Bminangkabau.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-5ksWTFle0Z4/WIxf8ek54DI/AAAAAAAAEiw/iZ9IYcg8SY4PnzKBkqAu0znHDU4ww1_CQCLcB/s72-c/pakaian%2Blaki-laki%2Bminangkabau.jpg
Minangkabau
http://www.anakminang.com/2017/01/imitasi-budaya-bukanlah-sebuah-dosa.html
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/2017/01/imitasi-budaya-bukanlah-sebuah-dosa.html
true
2180777074329911998
UTF-8
Sadang Proses Indak Basuo Caliak Sadono Baco Langkok Baleh Indak Jadi Baleh Apuih Oleh Laman Utamo Laman Artikel Caliak Sadonyo Iko Lasuah Lo Tantang Kumpulano SEARCH Kasadono Ndak Basuo nan Sanan Mintak Baliak Ka Hal Utamo Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Aguih September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Dec Sabanta Ko 1 minik nan lalu $$1$$ minik lalu 1 nan lalu $$1$$ jam nan lalu Karik Parang $$1$$ patang $$1$$ minggu patang labiah 5 minggu Followers Follow Iko Bamanpaik Bana Bagian dulu baru tabukak gembok no mah Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy