Sejarah dan Perkembangan Cina Memasuki Padang

Klenteng di Padang tahun 1890 (Padangkita.com - foto: kitlv) Di sebagian besar di Indonesia sangat lazim ditemui Kampung Cina. Tak terk...

Klenteng di Padang tahun 1890 (Padangkita.com - foto: kitlv)
Di sebagian besar di Indonesia sangat lazim ditemui Kampung Cina. Tak terkecuali di kota Padang. Kebiasaan orang Tionghoa ini sudah bukan rahasia lagi, merantau. 

Menilik ke masa lalu tentang kapan orang Cina ini pertama kali datang dan masuk ke Padang tidak ada kebenaran pasti. Salah satu sumber dari catatan Sumatera Courant, Niuews en Advertentieblad, 14-06-1862 menyatakan Li Thong, seorang pedagang besar telah ada di Padang pada tahun 1862.

Dijelaskan juga bahwasanya para pedagang Cina telah memperoleh kontrak dari Pemerintah untuk melakukan perdagangann semenjak meletusnya perang Paderi di tahun 1837. Bisa diimplikasikan bahwasanya pedagang cina telah ada semenjak sebelum perang Paderi tersebut.
[post_ads]
Dari beberapa sumber literatur, di tahun 1819 di Padang telah terdapat tak kurang dari 200 orang Tionghoa. Sampai pada tahun 1864, populasi Cina di kota Padang meningkat tajam. Bahkan kala itu telah diangkat pemimpin kelompok ini dengan julukan Kapitein atau Letnan Chinezen. Ditulis dalam catatan Poestaka Depok, hingga 1869 lebih dari 300 orang Cina di kota Padang.

Selain bangsa Cina, disampaikan pada periode yang sama, orang Nias juga meningkat tajam populasinya mencapai angka 2500 jiwa.

Awal masuknya etnis Cina ini dimulai dari kampung di pinggiran pantai Sumatera. Sebut saja Baros di Tapanuli, Labuhan (Deli) dan Muara di Padang. Mereka memiliki hubungan eraat dengan para tionghoa lain yang telah ada di Penang (Malaysia), Singapura dan Batavia.

Persebaran orang Cina khusus di Sumatera Barat mulai dari Padang, Painan dan Pariaman. Berlanjut ke daratan hingga ke Solok dan Padang Sidempuan. Ini terjadi karena faktor Booming Kopi di tahun 1860.

Kembali pada peningkatan populasi Cina di kota Padang, penataan dilakukan pemerintah Belanda. Akhirnya pemerintah menata cluster khusus. Ini di tandai dengan penerbitan Besluit van den Gouverneur van Sumatra’s Westkust nomor 758, pada tanggal 30 Oktober 1884. Ketetapan ini memberikan wilayah khusus pemukiman Cina di Padang.

Dikutip dari Poestaka Depok, dijelaskan bahwa penataan tersebut sebagai berikut,

Sepanjang jalan Cantioe hingga Poeloekaram dan batas-batas utara persi no. 1531, 1530 dan 166, ke timur dan perbatasan utara-timur kiri persil no. 1561, batas antara Poeloe Ayer dan Kampong Palinggam; selatan, sungai besar Batang Arau; ke barat Kali Ketjil, pipa waterleiding garis yang ke arah barat sejauh seratus meter dari sisi barat dari jalan P’oeloe Karam dan melalui Pondok ke tempat itu garis jalan melalui Kampong Sablah dan lebih lanjut.

Lagi lagi peningkatan populasi Cina, akhirnya peraturan di atas diperbaharui dengan aturan Beslit no 34 tertanggal 3 Februari 1891 dimana wilayah untuk pemukiman Cina di tetapkan,

Dalam beslit ini perkampungan orang-orang Tionghoa di Wijk-2 adalah sebagai berikut, ke utara: jalan Kampoeng Djawa Dalam; Ke timur: jalan Kampong Jawa, mulai dari persimpangan jalan melalui Kampong Jawa Dalam dengan jalan memotong di sekitar
Blakang Tangsi. Ke selatan, dari persimpangan jalan dari Kampong Djawa di sekitar Blakang Tangsi hingga ke sebelah jembatan di atas pipa waterleiding Blakang Tangsi; Ke barat: Sepanjang pipa waterleiding belakang kuburan orang Eropa dari jembatan hingga Blakang Tangsi ke persimpangan dengan jalan dari Kampong Jawa Dalam.


Penetapan wilayah juga diberikan untuk etnis Arab, Keling dan India. Ini diterbitkan pada tanggal 20 Maret 1902 dengan ketentuan,

Batang Araurivier mulai dari jembatan dekat Javabank hingga jembatan besar, jalan yang menuju Emmahaven; jalan ini ke arah barat sampai Gantingweg, Ranah, Alang-Lawas, Koeboeran-Dagang, Old-Kantineweg, Pasar Ambatjang, Goeroen-Ketjil ke jembatan batu di Gereja Katolik Roma dan dari sana sepanjang Kolangleiding hingga jembatan belakang Javabank.
Sisa daerah ini, ditutup sebagaimana dalam keputusan terdahulu No. 758 tanggal 30 Oktober 1884 yang akan ditunjuk sebagai lingkungan bagi Chiueezen untuk berikutnya. Selain itu, bagian dari lingkungan Poeroes, ke utara dari jalan utama ke Oedjoeng Karang persil 628 dan persil 297 hingga ke tepi laut; ke timur: jalan besar Oedjoeng-Kaiang; ke selatan: jalan besar persil 1495 dan 1565; ke barat adalah laut.

Tak hanya di Padang, di beberapa daerah lain juga diterbitkan Beslit yang mengatur daerah pemukiman Cina,

Painan, Batang Kapas, Air Bangies, Poelau Tello, Pariaman, Fort de Kock, Padang Pandjang, Fort van der (Japellen, Pajakumbu dan Solok. Selanjutnya pengaturan juga dilakukan di Sibolga, Batang Toru, Singkel, Goenoeng Sitoli, Natal, Padang Sidempuan dan Panjaboengan.
Besluit van den Gouverneur van Sumatra’s Westkust No. 758 tanggal 30 Oktobcr 1884 juga mengatur tentang wilayah pecinan seperti di Padang Sidempuan dan Fort de Kock.
[post_ads_2]
Pengaturan ini di Padang Sidempuan meliputi ke utara yakni sisi barat dan sisi timur sejauh 100 meter jalan besar dari Padang Sidempuan menuju Sibolga. Ke timur sepanjang sisi jalan sebelah utara sejauh 200 meter hingga ke benteng. Ke selatan sebelah sisi Aek Sibontar hingga jembatan Aek Rukare.

Sementara di Fort de Kock adalah sebagi berikut: ten Noorden en ten Westen de weg loopende van af den weg van Pajakombo tot aan den tembok; ten Oosten de pasar en de weg, die vandaar loopt tot aan den weg naar Pajakombo; ten Zuiden de lijn getrokken van de tembok tot aan het telegraafkantoor en vandaar tot op de pasar.

Pembatasan atau pembagian wilayah ini sejatinya bertujuan agar pemerintah Belanda mudah untuk mengawasi dan memonitori pergerakan masyarakat Cina. Tujuan lain, agar tak terlalu banyak bergaul dengan pribumi, karena ini bisa menjadi ancaman bagi pemerintahan Belanda. Terutama karena keputusan keputusan perpajakan yang sangat memeras rakyat pribumi dan pedagang Cina.

Pemerintah Kolonial Belanda khawatir dan melakukan langkah pencegahan terjadi pemberontakan serupadi Crawang dan Batavia. Sebab untuk daerah tersebut pemerintah lalai membatasi pergaulan Cina dan Pribumi. Tulisan Asli: Mohammad Arya - Kamis, 19/10/17 | 10:38- padangkitacom/sejarah-kedatangan-orang-cina-di-kota-padang-1/

Agiah Komen Gai La Sanak

   


Nama

Adaik,35,bahasa minang,6,Budaya,72,Carito,14,Dibao Galak,8,istilah,14,Pantun,12,Papatah,9,Resep Minang,9,Sajarah,31,Tokoh,10,Warisan,27,
ltr
item
Minangkabau: Sejarah dan Perkembangan Cina Memasuki Padang
Sejarah dan Perkembangan Cina Memasuki Padang
https://2.bp.blogspot.com/-rj3Gg3ZQVzc/Wj0v3LfQq6I/AAAAAAAAJTE/pwmpA_3V1zkWDxqLcqYE2YMHi_Oj4CTSQCLcBGAs/s400/retur%2Bbarang%2Bdi%2Bbukalapak.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-rj3Gg3ZQVzc/Wj0v3LfQq6I/AAAAAAAAJTE/pwmpA_3V1zkWDxqLcqYE2YMHi_Oj4CTSQCLcBGAs/s72-c/retur%2Bbarang%2Bdi%2Bbukalapak.jpg
Minangkabau
http://www.anakminang.com/2017/12/sejarah-dan-perkembangan-cina-memasuki.html
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/
http://www.anakminang.com/2017/12/sejarah-dan-perkembangan-cina-memasuki.html
true
2180777074329911998
UTF-8
Sadang Proses Indak Basuo Caliak Sadono Baco Langkok Baleh Indak Jadi Baleh Apuih Oleh Laman Utamo Laman Artikel Caliak Sadonyo Iko Lasuah Lo Tantang Kumpulano SEARCH Kasadono Ndak Basuo nan Sanan Mintak Baliak Ka Hal Utamo Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Akaik Sinayan Salasa Rabaa Kamih Jumaik Satu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Aguih September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Dec Sabanta Ko 1 minik nan lalu $$1$$ minik lalu 1 nan lalu $$1$$ jam nan lalu Karik Parang $$1$$ patang $$1$$ minggu patang labiah 5 minggu Followers Follow Iko Bamanpaik Bana Bagian dulu baru tabukak gembok no mah Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy