Versi Lain yang Lebih Logis, Malin Kundang Bukanlah Anak Durhaka

Malin Kundang, sebuah cerita legenda dengan bukti nyata. Beliau dicap sebagai anak Durhaka. Jika ada anak yang melawan pada orang tua, maka tersematlah gelar Malin Kundang. Apa benar itu orang bukti fisik orang sujud di Pantai Air Manis adalah Malin Kundang yang benar benar dikutuk menjadi batu?

Berawal dari obrolan pagi di sebuah kedai kopi. Bertemand dengan ketan hangat bergoreng pisang. Kebosanan dengan debat berdebat calon pemimpin masa mendatang. Terbukalah diskusi pagi tentang Malin Kundang ini.

Ringkasnya, ada sebuah opini (atau mungkin juga fakta) tentang Malin Kundang ini.

Malin Kundang selepas merantau dan meraih kesuksesan. Hingga pulang dan memiliki sebuah kapal. Sejadinya, dia bukanlah anak Durhaka. Beliau bersujud syukur sesampai di tanah kelahirannya. Di hadapan ibunya.

Selain itu, Malin Kundang juga dikenal sebagai orang yang baik pada masyarakat kampung halamannya. Oleh sebab itu, untuk mengabadikan beliau, dibuat masyarakat semacam monumen patung Malin Kundang beserta kemegahan kapal beliau. Tampaknya ini agak lebih logis dibanding manusia yang dikutuk menjadi batu.
foto batu malin kundang
Foto Batu Yang disebutkan hasil Kutukan Ibunya Malin Kundang
Beliau adalah anak yang berbalas jasa pada ibunya. Bukan seperti anak Durhaka yang digambarkan cerita cerita kontemporer.

Lalu, kenapa yang masyarakat ketahui Malin Kundang hanya sebagai anak Durhaka?

Adalah ini kisah dikarang oleh para penjajah. Memberikan kesan agar para anak Muda Minang tidak merantau dan bisa sukses. Memang ada sisi baiknya, jangan durhaka pada orang tua.

Jika dihubungkan dengan sebuah literatur tentang legenda Nyi Roro Kidul yang pernah saya baca (maaf saya lupa sumbernya) Politik 'menakut-nakuti' ini juga dilakukan Belanda di Pulau Jawa. Area pantai Selatan diharapkan menjadi jalur pelayaran bebas kapal Belanda dahulunya. Agar masyarakat tidak bisa menjangkau perairan tersebut, maka dibuatlah ceritera semacam Nyi Roro Kidul ini. Berat dugaan, mitos dilarang berbaju hijau sengaja  diciptakan agar Belanda memudahkan mengidentifikasi siapa saja yang masuk perairan tersebut. Berkemungkinan, yang berbaju hijau itu Belanda. Ketika, ada orang yang memasuki daerah tersebut dengan tidak berbaju hijau, tentu akan mudah dikenali. Dan langsung dihabisi.

Setelah mencoba mencari beberapa sumber lainnya tentang keabsahan cerita Malin Kundang bukanlah sebagai anak Durhaka. Saya mencoba menjelajahi internet. Ternyata benar saja, terjadi pembantahan oleh Indra J Piliang pada Fadli zon. Ini termaktub dalam chirpstory beriku.

Tweet Indra J Piliang
Oi @fadlizon, lu jgn ikut2an menghina Malin Kundang dong! Malin itu korban buzzer2 antropolog Belanda.
Lu kudu pelajari lg siapa Malin Kundang itu @fadlizon. Ndak ada apa2nya dibanding AHok di zamannya. Laksamana Niaga Pantai Barat-Selatan.
Sbg pembelajar Ilmu Sejarah mestinya lu lbh wise lg bicara Malin Kundang itu @fadlizon. Pikiran kolonialis2 Belanda itu tak perlu diiyakan.
Malin Kundang lbh hebat kontribusinya bagi kejayaan maritim di pantai Barat en Selatan.
Malin Kundang bukan hanya menghancurkan saudagar2 ngehe dari Belanda, Portugis, Spanyol, jg saudagar2 Arab, Turki hingga Tiongkok @fadlizon
Malin Kundang adlh satu2nya saudagar pribumi yg berhasil kuasai jalur laut pantai Barat & Selatan, hingga Laut Banda cc @fadlizon
Sayang, org2 naif abad2 pascakolonial justru tak sadar sdh dipengaruhi buzzer2 antropolog Belanda atas Malin Kundang cc @fadlizon.
Yg layak bermonolog itu Laksamana Malin Kundang, bukan Tan Malaka cc @fadlizon
Bro @aniesbaswedan perlu untuk rehabilitasi nama Malin Kundang dlm buku2 pelajaran cc @fadlizon @Fahrihamzah @fahiraidris @FaozanAmar
Keperkasaan armada laut Malin Kundang dg memakai kapal2 Phinisi bapak mertuanya yg org Bugis, bikin takut Belanda cc @fadlizon
Kejayaan Kerajaan Buton salahsatunya ditopang o/ keahlian Laksamana Malin Kundang berdagang di laut Banda cc @fadlizon
Avatar sy ini bagian dari penunjuk jln sisa2 kejayaan jalur2 laut Malin Kundang di Kerajaan Muna-Buton cc @fadlizon
Percaya aja lu, manusia bisa jadi batu? Bid'ah itu namanya. Palasik kecat urang2 tua. Bahayanya antropolog, gitu!

Selain itu, hal senada juga 'dikuliahkan' oleh @damnoise dalam akun pribadinya yang membahas siapa sebenarnya Malin Kundang ini. Selengkapnya bisa dibaca di : Chirpstory, Malin Kundang Bukanlah Anak Durhaka.

Tetapi, walaupun demikian benar atau tidaknya Malin Kundang itu dikutuk menjadi batu,  satu yang pasti- Jangan Durhaka pada Orang Tua.
Lah di Ujuang
Sudah Ko

1 komentar:

  1. MaNtab uda. Mungkin iko yang benar

    BalasHapus